Museum Mahameru Blora, Menyimpan Peninggalan 4 Jaman

Museum Mahameru Blora, Menyimpan Peninggalan 4 Jaman
Museum Mahameru Blora, Menyimpan Peninggalan 4 Jaman
DIGRA.ID – Museum Mahameru Blora, Menyimpan Peninggalan 4 Jaman (IST/HeavenlyIndonesia)

Museum Mahameru yang yang berada di kabupaten Blora dan mengukir namanya sebagai tempat penyimpanan harta berharga yang tidak sekadar artefak bersejarah, tetapi juga cermin dari segala perkembangan yang telah membentuk Kabupaten Blora. Koleksi yang dimilikinya menghidupkan kembali jejak-jejak sejarah dan budaya yang tidak dapat dipisahkan dari identitas wilayah ini.

Museum Mahameru telah menjadi pusat penjagaan bagi berbagai artefak berharga yang berasal dari berbagai periode sejarah. Beragam peninggalan mencakup dari zaman pra-aksara, masa Hindu-Buddha, masa Kerajaan Islam, hingga masa kolonial Belanda.

Museum yang terletak di Jalan Reksodiputro, Kompleks Taman Tirtonadi, Kabupaten Blora, ini hanya berjarak 1 kilometer dari Alun-alun Blora dengan waktu tempuh tak sampai 5 menit menggunakan kendaraan pribadi.

Berdiri dengan bangunan yang sederhana namun kokoh, museum ini menanti untuk dikunjungi. Museum ini memiliki keunikan dengan dua lantai yang menyediakan ruang luas bagi koleksi-koleksi bersejarah dan budaya.

Dua lantai itu memberikan pengalaman berkunjung yang mendalam, memungkinkan pengunjung menjelajahi sejarah Kabupaten Blora dari berbagai perspektif.

Di sini, pengunjung bisa menemukan fosil gajah purba, kura-kura purba, banteng, hingga kapak perimbas dan beliung persegi yang digunakan manusia purba pada zaman pra-aksara untuk melindungi diri, berburu, dan meramu.

Peninggalan lainnya bisa ditemui, seperti pecahan keramik kuno hingga bagian atas candi sebagai artefak masa Hindu-Buddha, wayang, kitab, dan beragam media dakwah pada masa Kerajaan Islam. Selain itu terdapat pula koleksi uang koin dan kertas hingga lukisan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno pada masa Kolonial Belanda.

Jika Anda sedang melakukan perjalanan ke Blora tak ada salahnya untuk mengunjungi museum ini. Museum ini bukan hanya destinasi untuk pengunjung yang ingin memahami sejarah dan sumber inspirasi bagi pelajar, peneliti, dan masyarakat umum tetapi juga memberi peluang bagi setiap pengunjung untuk melihat lebih dekat identitas unik Kabupaten Blora.

Empat Fashion Designer Ini Pamerkan Koleksi Pewarna Alam Berlatar Puncak Gunung Sumbing

Temanggung, 6 September 2023. Dalam gelaran 1st Tlilir Art & Culture Festival yang mengangkat tema ‘From Village To The World’, empat fashion designer; Identix Batik, Cusia by Sibiru, Verano, dan Ramban Ayu memamerkan koleksi terbaik mereka.

Dengan latar belakang puncak Gunung Sumbing, mayoritas koleksian mereka menggunakan pewarnaan alam dan didomiasi oleh batik yang ready to wear. Beberapa cutting dan warna kalem pun terlihat cocok dikenakan oleh para generasi milenial dan zelenial.

Identix Batik, brand asal Kota Semarang ini dipercaya sebagai pembuka utama outdoor fashion show yang menjadi rangkaian event Tlilir Art and Culture Festival, Jum’at (01/09/2023) membawakan total 10 look, lima look untuk perempuan dan lima look lagi untuk pria.

Brand yang pernah berkolaborasi dengan band death metal, Dead Squad ini pada bulan Maret 2023 lalu telah menggelar fashion show di Deco Building, Los Angeles, Amerika Serikat. Beberapa koleksi tersebut pun dihadirkan dalam outdoor fashion show di event ini.

Di hari kedua outdoor fashion show Tlilir Art and Culture Festival, Sabtu (02/09/2023) menampilkan koleksi busana dari Cusia by Shibiru. Kali ini menampilkan total 19 look, 15 look untuk model cewek dan lima look untuk model cowok.

Menariknya, koleksi busana yang dipamerkan dalam event ini menggunakan pewarna alam. Pigmen warna biru dihasilkan dari tanaman Strobilanthes Cusia lebih banyak dan bewarna- biru tajam dibandingkan dengan tanaman Indigo lainnya.

Pasta yang dihasilkan juga cepat meresap pada kain dengan tingkat kelunturan yang relatif kecil, serta ramah lingkungan dan non-toxic.

Peni Dinar Sumirat dan Novi Nur Achyani, Owner Cusia by Shibiru, dalam keterangannya hari ini Rabu (06/09/2023) menjelaskan, Cusia adalah produk turunan dari Shibiru dengan konsep ‘green economy’, pemberdayaan perempuan, dan peningkatan ekonomi untuk masyarakat Temanggung.

Nama Cusia diambil dari tanaman tumpangsari yang dapat tumbuh dengan baik di ketinggian 1000-1200 mdpl dengan suhu antara 23-25 ° celcius. Tanaman tumpangsari di kebon kopi dapat dijumpai dengan mudah di Temanggung dan Wonosobo.

Peni dan Novi, menambahkan penyelenggaraan outdoor fashion show di Tlilir Art and Culture Festival ini memunculkan ruang untuk berekspresi yang positif.

“Keren, juga terharu dan tidak nyangka dengan bakat atau talent model dari warga setempat. Terima kasih Cusia by Sibiru telah diberikan kesempatan untuk menampilkan produk-produk di outdor fashion show Tlilir Art and Culture Festival,” pungkas Peni dan Novi.

Sebagai penutup outdoor fashion di hari Minggu (03/09/2023) adalah koleksi Verano dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkolaborasi dengan Ramban Ayu—yang hadir dengan koleksi batik ecoprint. Verano membawakan lima look ready to wear dengan aksen warna hitam dan merah terang.

Sementara Ramban Ayu menghadirkan 10 koleksi batik eco print yang terinspirasi alam sekitar dibalut dengan warna-warna lembut, mampu menjadi penutup sempurna pelaksanaan outdoor fashion show di Tlilir Art & Culture Festival kali ini. [*]

Menparekraf Dukung Penyelenggaraan ‘1st Tlilir Art & Culture Festival’ di Temanggung

Jakarta, 21 Agustus 2023 – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mendukung penyelenggaraan ‘1st Tlilir Art & Culture Festival’, yang merupakan hallmark event yang berbasis pariwisata dan digerakkan oleh masyarakat.

‘1st Tlilir Art & Culture Festival’ mengangkat tema ‘From Village to The World’ dengan latar belakang pemandangan Puncak Gunung Sumbing.

Event ini akan berlangsung di Desa Tlilir, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, pada 1-3 September 2023, dengan menarasikan ‘Tlilir: Tembakau, Tradisi dan Takdir’, serta mengampanyekan ‘Sustainability & Eco-Friendly Event’. Dimana dalam penyelenggaraan event ini seluruhnya menggunakan material bambu.

“Kami sangat mendukung dan akan membantu promosi, dan mudah-mudahan ini yang pertama dan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang,” kata Menparekraf Sandiaga Uno dalam The Weekly Brief With Sandi Uno” di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Senin (21/8/2023).

Direktur Digra Harsa Mandiri, Ridlo Amiruddin, menyampaikan Tlilir Art & Culture Festival dikemas dengan melibatkan masyarakat melalui pertunjukan drama musikal. Ia menargetkan 3000 pengunjung datang ke acara dalam 3 hari penyelenggaraan.

“Untuk line up-nya akan dihadiri Orkes Sinten Ramen, Jogja Hip-hop Foundation, penyanyi Arlinda Putri dan Irenne Ghea,” kata Ridlo.

Selain itu, Ridlo menuturkan festival ini juga akan menyuguhkan festival UMKM dari 17 subsektor ekonomi kreatif seperti fesyen, kuliner, produk kerajinan dari tembakau, kopi, dan lomba kuda lumping tingkat nasional dengan hadiah piala Kemenpora dan uang tunai.

Turut hadir mendampingi Menparekraf Sandiaga, jajaran pejabat eselon I dan II di lingkungan Kemenparekraf.

 

Sumber Berita: https://kemenparekraf.go.id/berita/siaran-pers-menparekraf-dukung-penyelenggaraan-1st-tlilir-art-culture-festival-di-temanggung

Timor de Belitong: Upaya Belitung Timur Mengangkat Ekonomi Kreatif Dibalut Kearifan Lokal

Guna menggaungkan sekaligus meneguhkan Kabupaten Belitung Timur, sebagai daerah kepulauan yang kaya akan keindahan alam, seni, budaya, dan bahari menggelar event Timor de Belitong dari tanggal 1 – 4 Juni 2023 di Lapangan Jagor, Kurnia Jaya, Manggar, Belitung Timur. Dengan mengangkat tema ‘Art & Creative Fest’ Kabupaten Belitung Timur diharapkan meng-eksplor 17 subsektor ekonomi kreatif, di antaranya seni rupa, fashion, kuliner, musik dan seni pertunjukan yang dibalut kearifan lokal dari kehidupan bahari pesisir.

Sektor ekonomi kreatif menjadi unggulan karena pertumbuhannya yang cepat tiap tahunnya. Sektor ini pun diharapkan dapat meraup devisa besar serta mampu menyeimbangkan neraca perdagangan. Meski sektor ekonomi kreatif sempat terdampak pandemi Covid-19, namun ada beberapa sektor yang justru tumbuh, di antaranya animasi, aplikasi dan game developer. Di masa pandemi juga, sektor ini mengalami peningkatan peluang usaha berbasis e-commerce di tahun 2021 sebesar 42 persen, penjualan ini berasal dari kategori fashion, food, dan lainnya.

Event Timor de Belitong selain menjadi etalase produk 17 subsektor ekonomi kreatif, juga digelar konser musik yang mendatangkan grup musik The Rain dan Happy Asmara.

TLILIR ART & CULTURE FESTIVAL 2023

Yuk merapat, para Traveler!!
Kamu bisa hunting spot foto landscape yang cihuy, belajar kultur budaya tradisional, jogedan di konser musik, wisata kuliner atau nyantai sambil ditemani kopi panas dan menikmati tembakau kualitas terbaik. Komplit!!!!
Sampai jumpa di Tlilir ART & CULTURE FESTIVAL 2023

COME & HAVE FUN, Travelers!!
You can enjoy a whole packages of fun of beautiful photo spots hunting, learning traditional cultures, music concerts, culinary or chillin’ while enjoying a cup of hot coffee and the best quality tobacco. Period!!!!
See you at the TLILIR ART & CULTURE FESTIVAL 2023

Digra Coffee and Eatery Menjamu OM PMR dalam Event Bedah Buku “Berjuang di Sudut Sudut Tak Terliput

Lagu berjudul ‘Malam Jum’at Kliwon’ di area mini konser Digra Coffee and Eatery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, langsung pecah. Sekaligus menjadi penutup yang manis dari acara bedah buku berjudul “Berjuang di Sudut Sudut tak Terliput” karya Iqbal Aji Daryono.

Tanpa ada komando, penonton pun langsung sing along. Lagu pembuka itu langsung membuncah, mengahiri dahaga nonton konser musik secara live di tempat terbuka dengan jamuan secangkir kopi.

Dengan didukung kekuatan sound mencapai 3000 watt Orkes Melayu Penghantar Minum Racun (OM PMR), lagu ‘Malam Jum’at Kliwon, dapat menjadi mukadimah yang mampu langsung menghangatkan suasana.

Meski OM PMR lahir di tahun 1977, namun malam itu mayoritas penonton berada di generasi milenial dan Gen Z. Toh nyatanya, dari 10 lagu yang dibawakan oleh OM PMR pada Jum’at malam (01/07/2022) yang bertepatan dengan hari Bhayangkara itu mereka mampu nyanyi dan hafal semua lagun dimana mereka belum pada lahir.

Malam itu, OM PMR hadir dengan 6 personil, Ajie PMR—Vokal, Ima Maranaan—Bass, Hary Muka Kapoor—Kendang, dan tiga diantaranya adalah additional. Warna musik, dan dentuman kendang masih terasa orisinil

Meski minus Jhonny Iskandar sebagai vokalis ikoniknya, namun penampilan Ajie Cetti Bahadur Syah atau Ajie PMR sebagai vokalis tetap mampu menyajikan kualitas suara khas PMR yang memiliki karakteristik, humor, apa adanya, dan tetap dicinta penggemarnya.

Beberapa lagu long listen alias sepanjang masa yang malam itu dibawakan diantaranya, Judul – judulan, Duit Duitan, Boneka India, Banjir di Malam Minggu, ditutup dengan lagu pamungkas berjudul ‘Bintaku Bintangmu’.

Realita Sosial dan Alat Negara

Tidak hanya mampu bertahan ditengah gempuran genre musik dan pendengar di era kekinian, OM PMR yang selalu membawakan syair-syair humor, berdasarkan realitas sosial, bermasyarakat, dan mampu mengajak bergoyang ini, tetap mempunyai ruang tersendiri untuk dicintai para penggemarnya meski zaman telah berbeda.

Ajie PMR menjelaskan, resep OM PMR mampu bertahan hingga saat ini adalah kompak, dan selalu menjauhi narkoba. “Yang paling terpenting adalah jauhi narkoba,” ungkap Ajie usai konser, ketika ditanya resep OM PMR tetap kompak.

Setali tiga uang, untuk mengilustrasikan kondisi OM PMR dan kiprah insstitusi kepolisian sebagai alat negara sebagai pengayom masyarakat. OM PMR akan tetap eksis selama orkes yang mereka bawakan masih dicintai masyarakat.

“Suara kita biasa ajah sih. Yang namanya orkes itu, yang terpenting adalah bisa seneng dan happy bareng. Mereka (fans) nggak mikirin dan nggak terpengaruh mau suara bagus atau tidak bagus. Yang penting mereka hapal lagunya terus bisa nyanyi bareng,” terang Ajie.

Berbeda dengan realita sosial kepolisian. Alat negara yang satu ini, mereka harus mengikis citra buruk dimata masyarakat. Suara-suara minor akan stigma polisi masih begitu dominan. Sejatinya, banyak personal dari alat negara ini yang baik.

Sayangnya, publikasi polisi bercitra baik ini sangat minor. Faktanya, realita seperti ini benar-benar nyata adanya di seluruh penjuru negeri ini.

Iqbal Aji Daryono, penulis buku berjudul “Berjuang di Sudut Sudut tak Terliput” menangkap fakta masih banyak personal polisi yang baik, mampu mengurai permasalahan tanpa harus represif.

“Jika dianalogikan ke dalam algoritma sosial media, pembaca kita terjebak dalam cangkang-cangkang polarisasi. Mereka (pembaca) tidak mendapat informasi secara holistik, dan terbatas serta dipengaruhi oleh algoritma,” jelas Iqbal.

GENERASI MUDA BICARA ARAH BANGSA : Milenial Menyambut Pemilu 2024

Milenial mempunyai peranan penting dalam pemilu 2024 mendatang. Isu-sisu soal generasi muda pun masih belum optimal diangkat oleh para peserta Pemilu. Hal ini disampaikan oleh August Mellaz, Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam dalam diskusi yang digelar oleh Forum Strategis Arah Bangsa (Fostrab) dengan tajuk ‘Millenial Menyambut Pemilu 2024’ di Digra Coffee And Eatery, Jalan Lebak Bulus II, Nomor 21, Jakarta Selatan.

August mengungkapkan, sejatinya generasi milenial saat ini antusias menanggapi wacana sistem politik yang ada di Indonesia. Jika dilihat berdasarkan hasil survei dari lembaga-lembaga survei yang kredibel, generasi milenial ini sudah perhatian dengan isu-isu politik yang beredar di publik. “Semisal pandangan preferensi terhadap sistem politik tertentu, terhadap partai politik atau isu-isu yang akan mereka hadapi, itu justru sudah menjadi manifes,” kata August. Ia pun menambahkan, para pemuda sudah memiliki kesadaran untuk menggunakan hak pilih mereka. Akan tetapi, August mengkhawatirkan isu-isu generasi milenial tersebut tidak tersentuh oleh para peserta pemilu, dalam hal ini partai politik maupun para calon legislatif.

Sementara itu Nurlia Dian Paramita, Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menyampaikan, tantangan pemilih milenial saat ini yaitu terlalu berjarak dengan visi misi para peserta pemilu. Mita pun meminta KPU untuk memberikan ruang kepada generasi milenial agar mendapat sosialisasi pendidikan politik dalan pemilu.

“Jadi jangan sampai pemilih milenial itu hanya menjadi penonton dalam pemilu. Buat para milenial itu tergerak untuk memilih karena meyakini adanya kesamaan visi misi dengan para peserta pemilu pilihannya,” ucap Mita. Ia pun menegaskan diskusi seperti yang diadakan Fostrab tersebut harus diapresiasi karena kegiatan itu merupakan bentuk nyata adanya ruang dialog antara milenial dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pemilu mendatang.

Diskusi yang dihelat oleh Fostrab tersebut diselenggarakan pada Jumat malam mulai sekitar pukul 20.00 WIB. Gelaran diskusi yang diadakan di kafe Digra Coffee and Eatery, dihadiri oleh sejumlah organisasi mahasiswa, tokoh kepemudaan, dan pegiat pemilu. Pembicara dalam diskusi tersebut diampu oleh sejumlah tokoh seperti Anggota KPU, August Mellaz; Koornas JPPR, Nurlia Dian Paramita; Peneliti Indikator Politik, Bawono Kumoro serta Pendiri Positive Movement, Inayah Wulandari Wahid.

Back to Top